Perjalanan Karir Gubernur Riau Abdul Wahid, Dari Cleaning Service hingga Kursi Gubernur

Cuwittan.com — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT), kali ini menjerat Gubernur Riau Abdul Wahid, pada Senin (3/11/2025). Penangkapan ini menjadi OTT keenam yang dilakukan KPK sepanjang tahun 2025, menambah panjang daftar kepala daerah dan pejabat publik yang terjerat dugaan tindak pidana korupsi.

OTT Keenam KPK di 2025
Penangkapan Abdul Wahid melanjutkan rentetan OTT KPK di sejumlah wilayah dan kementerian sepanjang tahun ini. Sebelumnya, lembaga antirasuah telah melakukan operasi serupa di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Tenggara, Jakarta, dan Kementerian Ketenagakerjaan.

Kasus Abdul Wahid menjadi perhatian publik karena terjadi hanya beberapa bulan setelah dirinya dilantik sebagai Gubernur Riau periode 2025–2030 oleh Presiden Prabowo Subianto, pada Februari 2025.

Perjalanan Hidup dari Bawah
Abdul Wahid dikenal masyarakat Riau sebagai sosok sederhana yang meniti karier dari bawah. Lahir di Dusun Anak Peria, Kabupaten Indragiri Hilir, pada 21 November 1980, Wahid adalah anak ketiga dari enam bersaudara dalam keluarga petani sederhana.

Sejak kecil, Wahid sudah terbiasa membantu orang tua bekerja di sawah dan kebun warga. Saat menempuh pendidikan di UIN Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, ia bekerja sebagai cleaning service dan kuli bangunan demi membiayai kuliahnya di Fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam.

“Yang penting bisa lanjut sekolah dan tidak merepotkan ibu,” ujarnya dalam wawancara beberapa tahun silam.

Dari perjalanan hidup yang penuh perjuangan itu, Wahid dikenal memiliki karakter gigih, rendah hati, dan dekat dengan rakyat kecil. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi kemahasiswaan, yang kemudian mengantarkannya pada dunia politik.

Karier Politik yang Melonjak Cepat
Wahid memulai langkah politiknya dengan bergabung ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang dianggapnya sejalan dengan nilai perjuangan kaum santri. Ia berhasil terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Riau pada Pemilu 2019, dan kembali terpilih pada Pemilu 2024 dengan perolehan suara tertinggi di wilayahnya.

Di Senayan, Wahid dikenal vokal memperjuangkan isu pembangunan infrastruktur dan pendidikan di daerah. Ia juga sempat menjabat sebagai pimpinan Badan Legislasi DPR RI, posisi strategis yang memperlihatkan pengakuan atas kapasitasnya sebagai politisi muda potensial.

Dukungan kuat masyarakat dan rekam jejak politiknya membuat namanya melesat sebagai calon Gubernur Riau. Pada awal 2025, ia resmi dilantik menjadi gubernur sebuah pencapaian besar bagi seseorang yang pernah bekerja sebagai tenaga kebersihan kampus.

Dari Harapan Rakyat ke Kasus Korupsi
Namun, perjalanan politik cemerlang itu kini harus terhenti di tengah jalan. OTT KPK yang menjerat Abdul Wahid menjadi pukulan berat bagi masyarakat Riau. Sosok yang dulunya dianggap sebagai simbol perjuangan rakyat kecil kini harus menghadapi tudingan korupsi.

KPK belum merinci secara detail kasus yang menjeratnya, namun penangkapan tersebut menambah daftar panjang pejabat publik yang tersandung kasus dugaan suap dan gratifikasi di tingkat daerah.

Sebelumnya, sepanjang 2025 KPK telah melakukan lima OTT besar, di antaranya:
• OTT anggota DPRD dan pejabat Dinas PUPR Kabupaten Ogan Komering Ulu (Maret 2025),
• OTT proyek pembangunan jalan di Sumatera Utara (Juni 2025),
• OTT proyek rumah sakit di Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara (Agustus 2025),
• OTT dugaan suap pengelolaan kawasan hutan di Jakarta (13 Agustus 2025),
• OTT kasus dugaan pemerasan di Kementerian Ketenagakerjaan yang menyeret Wakil Menteri Immanuel Ebenezer Gerungan.

Ironic Turn: Dari Teladan Jadi Tersangka
Bagi warga Riau, penangkapan Abdul Wahid menghadirkan ironi yang pahit. Sosok yang dulu dielu-elukan karena perjuangan dan kesederhanaannya kini justru menjadi headline karena kasus korupsi.

“Selamat buat Pak Gubernur Abdul Wahid, semoga amanah memimpin negeri ini,” tulis salah satu warga di media sosial sesaat setelah pelantikannya, Februari lalu. Kini, ucapan itu terasa getir  mengingat perjalanan hidup yang semula penuh inspirasi kini diwarnai dugaan penyalahgunaan kekuasaan.

Kasus Abdul Wahid menjadi pengingat keras bahwa jabatan adalah amanah, bukan sekadar puncak pencapaian. Dan bagi masyarakat Riau, ini sekaligus menjadi sinyal bahwa perjuangan melawan korupsi masih panjang, bahkan di tanah yang pernah melahirkan pemimpin dengan kisah hidup seheroik dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *